Goodbye. . .
Kim Soo Ra
This is my first FF!
Note : kalo tanda petiknya cuma satu itu berarti flashback (percakapan dalam sms)
Aku masih disini.. aku diam bukan berhenti,, aku berhenti bukan menyerah,, aku menyerah bukan melupakan… Aku menyerah untuk memperjuangkanmu bukan untuk melupakan semua kenangan dan perasaan yang ada… Terimakasih Kyuhyun ah… Saranghae…
.
.
.
“Kyuhyun ah!!”
DEG
Suara itu… aku mengenalnya.. Kami
menoleh kebelakang bersama.
Park Seo Mi… gadis itu berdiri
menatap Kyuhyun.
“Oh! Kau sudah datang.” Ucapnya
ceria. “Bogoshipo.” Sambungnya sambil memeluk Seo Mi.
DEG
Lagi-lagi hatiku sakit. aku tahu,
aku tidak berhak marah.. karena aku bukan siapa-siapa nya… tapi aku
mencintainya! Tetap saja hatiku akan terluka jika melihatnya bersama gadis
lain.
“Mengapa kau pindah kesini?
Bukankah kau sekolah musik di Jepang?” tanyanya pada Seo Mi.
“Aku pindah karena dirimu.” Jawab Seo Mi.
Aku mati-matian menahan airmataku. Tuhaann.. kumohon, jangan
sekarang… aku tidak ingin mereka tahu bahwa aku terluka.. hingga akhirnya aku
tidak tahan. Aku berlari melewati mereka.
“Oh! Soo~ya.. kau mau kemana?” teriaknya.
“Aku pulang dulu. Ada urusan mendadak!” aku berusaha bicara
normal. Dia tidak tahu aku menangis karena aku membelakanginya.
“Baiklah. Hati-hati!”
“Kyu~ah… kajja kita melihat-lihat Korea.” Ucap Seo Mi manja.
“Ne. kajja! Aku juga sudah merindukan Korea.” Jawab Kyuhyun.
Hatiku semakin tertusuk mendengarnya. Aku mempercepat
lariku. Aku masih terisak. Aku ingin berteriak sekencang mungkin. Berharap akan
ada ruang dihatiku. Hatiku terasa semakin sesak dan semuanya kembali berputar
di memoriku.
‘ Kyu~ah.. aku tidak
nafsu makan sekarang.’
‘Nafsu atau tidak, kau
harus tetap makan Soo!’
‘Aku tidak lapar Kyu.’
‘Kau harus makan!’
.
‘Lalu kau melupakan
kebutuhanmu sendiri? Membiarkan tubuhmu sakit? Membiarkan batinmu teriksa?
Jangan terlalu difikirkan Soo! Mereka akan bersama kembali! Sekarang kau
cepatlah makan! Aku tidak ingin kau sakit!’
‘Aku tidak peduli.
Terserah apa katamu. Aku dalam keadaan mood yang buruk sekarang.’
‘Aku
melakukannya…juga karena kau.’
.
‘Aku tidak bisa Kyu. Aku
akan menemani Yesung oppa.’
‘Yaa!! Kau tidak
menemaniku juga,huh? Aku jadi cemburu.’
‘Yaa!! Dia hanya
kuanggap sebagai Oppa-ku! Bukan kekasihku. Nanti aku akan menemanimu, araseo?’
‘Aniya! Aku ingin
sekarang.’
.
‘Ayolah Soo… temani
aku mencari kaset game. kumohon…’
‘Mengapa tidak bersama
sahabatmu saja?’
‘Kau sahabatku!’
‘Maksudku Ryeowook dan
Eunhyuk.’
‘Aku ingin kau yang
menemaniku!’
Tetes-tetes air mulai turun dari langit. Aku masih terus
berlari hingga aku sudah berada disebuah taman. Aku duduk di salah satu bangku
sambil terisak, membiarkan tetes-tetes air hujan membasahiku. Aku kecewa. Tentu
saja! Dia memelukku, juga memeluknya.
Aku bingung… Aku
bingung dengan sikapmu. Mengapa Kau tidak ingin memilikiku? Apa Kau tidak
pernah mencintaiku? Lalu mengapa kau bersikap seperti itu padaku? Aku tidak
ingin berharap… tetapi kau yang membuatku berharap Kyu…
Aku pergi meninggalkan taman dan pulang ke apartemenku.
.
.
.
“Bagaimana?” Tanya Hye Na langsung saat kami berada di
bangku kampus.
“Apanya yang bagaimana?” aku kembali bertanya sambil
pura-pura sibuk membaca novel. Aku tahu dia menanyakan Cho Kyuhyun.
“Haiisshh… kau ini! Kau pura-pura bodoh atau memang bodoh?”
dengus In Young.
“Aku memang bodoh.” Jawabku tanpa melihat mereka.
“Apa kau menemui Cho Kyuhyun?” Hye Na kembali bertanya.
“Ne.” jawabku tanpa minat.
“Yaa!! Kenapa kau tidak bersemangat sekali? Apa kemarin
terjadi sesuatu?” selidik In Young
“Tidak.” Jawabku singkat.
“Yaa!! Kita sudah bersahabat lama sekali. Aku tahu kemarin
terjadi sesuatu. Ayolah Soo… ceritakan pada kami.” Hye Na dan In Young memasang
wajah aegyo nya.
“Aiisshhh… aku benci ini. Kenapa aku selalu tidak bisa
menolak kaliaann???” ucapku sambil menutup novel yang kubaca.
Mereka tersenyum lebar dan menunggu ceritaku.
“MWO????? MEREKA BERPELUK… mppff” teriak Hye Na setelah aku
menceritakan semuanya.
Aku langsung membekap mulutnya. Dan mendapatkan
tatapan-tatapan aneh dari mahasiswa dan mahasiswi lain.
“Aiisshh.. ini di kampus Hyeeeeee!! Jangan berteriak,
pabbo!!” runtukku.
“hehehe. Mianhae.” Cengirnya.
“Aku bingung.” Ucapku sambil melamun.
“Lakukan apa yang menurutmu benar Soo. Sebaiknya… lupakan
dia. Aku tidak ingin kau terus terluka seperti ini. Aku hanya memberi saran,
semua keputusan ada di tanganmu.” Hye Na berkata dengan sangat bijak, sedangkan
In Young mengangguk setuju di sebelahnya.
Aku terpana mendengar ucapan Hye Na…
“Err… kenapa kau menatapku seperti itu??”
“Apa benar ini kau?” selidikku sambil menatap Hye Na. “Apa
kau yakin tidak salah minum obat tadi?” sambungku.
“Dia tadi jatuh dan kepalanya membentur kursi, apa karena
itu otaknya sedikit normal?” sahut In Young santai.
Aku tertawa. Mereka selalu membuatku tertawa disaat aku
butuh hiburan. Karena itu aku sangat menyayangi mereka.
“Yaa!! Aiish.. kenapa kalian memojokkanku?” dengus Hye Na.
“Araseo araseo! Aku ingin jalan-jalan.” Ucapku
“Aku tidak ingin ke bioskop. Bosaaannn.” Runtuk In Young
“Siapa bilang kita akan ke bioskop.” Aku tersenyum simpul.
.
.
.
“MWO???????? Yaa!! Soo~ya… kenapa kita kesini?” Tanya Hye Na
setelah melihat pemandangan di depannya.
“Aku merasa seperti gadis berumur 5 tahun.” Gumam In Young
yang juga menatap pemandangan di depannya.
“Kalian tidak akan pernah tahu. Ini pasti akan sangat
menyenangkan.” Ucapku sambil menatap taman bermain itu. “Kajja.” Ucapku sambil
menarik kedua temanku yang masih menjadi patung.
Aku menyodorkan dua buah permen kapas untuk kedua temanku,
“Ini untuk kalian.”
“Kau benar! Ini sangat menyenangkan.” Cengir Hye Na.
“Aku ingin naik roller coaster.”
Aku tersenyum lebar menatap In Young, “kajja.”
Sebenarnya aku belum pernah naik roller coaster, tapi
sepertinya akan menyenangkan. Perlahan kereta itu mulai berjalan. Semakin lama
semakin cepat.
Tiba-tiba
saja kereta memelan kemudian berhenti tepat di tengah puncak sebelum akhirnya
meluncur cepat ke bawah.
“AAAAKKHHH..”
aku menutup mataku dan berteriak keras-keras, mengeluarkan semua beban yang
mengganjal di hatiku.
“AAAAAAAAKKKHHH…”
teriakan Hye Na dan In Young juga mulai terdengar.
Ungkapan
marah, kecewa, sedih yang kupendam, kukeluarkan semuanya. Isak tangis yang
keluar, kekesalan dan kata-kata yang teredam, aku teriakkan dengan kuat kepada
angin. Saat kereta perlahan berhenti di tempat awal, aku merasa sedikit lega.
“Kau benar!
Sangat menyenangkan. Ini pengalaman pertamaku. Gomawo Soo~ya.. aku mendapatkan
hal-hal baru hari ini.” Ucap In Young tulus.
Aku
tersenyum lega, “Kajja, kita pulang.”
Baru
beberapa meter aku berjalan, tidak sengaja aku melihat Kyuhyun bersama seorang
gadis. Langkahku terhenti otomatis. Samar-samar aku melihat wajah gadis itu.
DEG
“Cho
Kyuhyun….” Lirihku setelah melihat apa yang mereka lakukan. Cho Kyuhyun dan
Park Seo Mi. Mereka berciuman!
“Mwo? Kau
bilang apa Soo? Kenapa berhenti?” selidik In Young.
“Ne? ah..
aniya, aku ada urusan. Kalian pulanglah dulu.” Aku memaksakan senyumku.
“Baiklah.
Bye~” Hye Na dan In Young melambai-lambaikan tangannya.
Aku masih
menatap mereka. Aku tahu itu akan membuatku terluka… dan aku berharap airmata
ku yang keluar untuk Cho Kyuhyun perlahan dapat menghapus namanya yang sudah
terukir selama 2 tahun dihatiku.
Aku berlari
meninggalkan tempat itu. Sungai Han… entah mengapa kakiku berlari kesini.
“Jadi kalian
masih sepasang kekasih? Well,, penantianku selama ini sia-sia?” aku tersenyum
pahit.
“Kyuhyun~ah…
apa benar kau tidak pernah mencintaiku? Jadi cinta itu memang tidak pernah ada
dari dulu?” lirihku yang tentu saja hanya dijawab oleh hembusan angin.
“Mengapa kau
menyakitiku dengan cara seperti ini? MENGAPA KAU MELAKUKANNYA KEPADAKU? MENGAPA
KAU DULU MEMBERI HARAPAN KEPADAKU? MENGAPA?” teriakku menatap sungai Han.
“Tuhaaaannn…
baru beberapa jam yang lalu aku merasa sedikit lega, tapi mengapa sekarang
sesak kembali?” aku terisak pelan.
Aku menarik nafasku dalam-dalam dan menghembuskannya
perlahan, “Aku masih disini, aku diam bukan berhenti, aku berhenti bukan
menyerah, aku menyerah bukan melupakan… Aku menyerah untuk memperjuangkanmu
bukan untuk melupakan semua kenangan dan perasaan yang ada… Terimakasih Kyuhyun
ah… Saranghae…” lirihku sebelum meninggalkan tempat itu.
-FIN-

0 comments:
Post a Comment